Lailatul Ijtimak (LI) merupakan sebuah momentum penting dalam organisasi Nahdlatul Ulama (NU), yang bertujuan untuk mempererat tali persaudaraan dan ukhuwah Islamiyah di antara sesama anggota NU, khususnya dalam lingkup desa atau kecamatan. Dalam konteks LI Ranting NU Desa Nglumpang yang diinisiasi oleh Ketua Tanfidziyah, Kyai Hasyim ini dihadiri oleh para pengurus NU dari berbagai ranting di wilayah Kecamatan Mlarak, serta Ketua MWCNU Kecamatan Mlarak, Gus Sukron. Kehadiran berbagai pengurus dari ranting-ranting ini menunjukkan betapa pentingnya kebersamaan dan kesatuan dalam menyukseskan agenda dan kegiatan NU di tingkat yang lebih lokal.
Tujuan utama dari Lailatul Ijtimak adalah untuk mempererat tali silaturahmi dan ukhuwah Islamiyah di antara anggota NU, membangun solidaritas, serta meningkatkan komitmen terhadap ajaran Islam yang moderat dan penuh toleransi. Pertemuan seperti ini juga sering digunakan untuk membahas program-program organisasi, menyelesaikan persoalan umat, dan memperkuat peran NU dalam membangun masyarakat yang lebih baik.
Dengan adanya LI, diharapkan seluruh pengurus dan anggota NU dapat lebih solid dalam menghadapi tantangan keagamaan dan sosial di masyarakat, serta memberikan kontribusi positif dalam kehidupan beragama dan berbangsa.
Ingkung sebagai simbol kesyukuran
Ambeng Ingkung adalah tradisi dalam budaya Jawa yang biasanya dilakukan sebagai bentuk syukur atau doa keselamatan. Ingkung menggambarkan keberkahan hidup yang diperoleh oleh yang menghidangkan. Dalam konteks Islam, tradisi Ambeng Ingkung bisa dilihat sebagai sebuah bentuk syukuran atau selamatan yang dilaksanakan untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Allah atas berbagai nikmat yang diberikan. Meskipun tidak ada aturan khusus dalam Islam yang mengharuskan praktik ini, budaya Jawa yang berakar pada Islam sering mengadaptasi tradisi seperti ini dengan cara yang sesuai dengan ajaran agama.
Dalam tradisi Lailatul Ijtimak (LI) yang diadakan di Ranting NU Desa Nglumpang, adanya hidangan ingkung tentu memiliki makna dan tujuan yang sangat penting, baik dari segi budaya maupun keagamaan. Ingkung, yang berupa ayam utuh yang dimasak dengan bumbu khas, sering dijadikan hidangan dalam acara syukuran atau pertemuan penting. Dalam konteks acara LI, hidangan ini bisa membawa beberapa makna.
Ayam ingkung sering dipilih sebagai simbol rasa syukur atas nikmat yang diberikan oleh Allah. Dalam acara LI, hidangan ini mengandung harapan akan keselamatan dan keberkahan bagi seluruh anggota NU dan masyarakat yang hadir. Tradisi makan bersama, terutama dengan hidangan seperti ingkung, menjadi momen untuk mempererat hubungan antar sesama. Saat menyantap hidangan yang sama, semua peserta akan merasa lebih dekat dan memperkuat rasa kebersamaan dan persaudaraan, sesuai dengan tujuan LI untuk mempererat ukhuwah Islamiyah. Hidangan ingkung yang sering kali disajikan dalam porsi besar mengandung pesan penting tentang pentingnya berbagi rezeki dengan sesama, yang juga sesuai dengan ajaran Islam tentang kepedulian terhadap orang lain.
Dengan adanya ingkung dalam acara LI, tidak hanya aspek gastronomi yang dipenuhi, tetapi juga aspek spiritual dan sosial yang menguatkan ikatan antar sesama anggota NU dan masyarakat yang lebih luas.